nafs

Nafs (nafsu)

Nafs (nafsu) dalam arti lughot adalah “diri”, tetapi ada yang menafsirkan “ego” atau”jiwa”, ada pula yang mengatakan “intisari” atau “nafas”. Adapun urutan nafs dalam tubuh manusia dapat dipilah menjadi: -amarah, -lauwamah, -sufiyah, -mutma’inah, -rodiah, -mardiah. Ketika” nafs”, di sebut maka konotasi kita sering mengarah pada suatu ke sesatan atau keburukan, wal hasil “nafs”sering di jadikan kambing hitam ketika seseorang melakukan kesalahan, seperti ketika salah langkah melakukan hubungan sex maka “nafs” yang pertama kali dijadikan alibi pembenaran kesalan sex kita maka muncullah istialah “nafs sahwat”, dan ketika kita sedang marah lalu melakukan tindakan criminal, perkelaian, pembunuhan maka “nafs amarah” dikorbankan sebagia fihak yang bertanggung jawab, al hasil “nafs”sering di konotasikan terhadap sesuatu yang jelek dan menyesatkan akal pikir kita.

Hidup manusia tersusun dari dua materi yaitu: jasmani dan rokhani (fisik & metafisik). Fisika atau materi jasmani tersusun dari : debu/tanah, air, udara, api. Sedang metafisik “ruhani” tesusun dari: amarah, lauwamah, sufuyah, mutmainah. Dari unsur api menimbulkan amarah, unsur angin/udara menimbulkan lauwamah, unsdur air menimbulkan sufiyah sedang unsur tanah menimbulkan mutmainah.

Jika manusia masih dalam keadaan hidup secara otomatis tidak dapat dipisahkan antara roh dan jasad. Tetapi jika terpisah itu dinamakan mati(al maut) mati adalah perpisahan antara roh dan jasad, bila jasad tanpa “ruh”dinamakan bangkai, tetapi jika ruh tanpa jasad dinamakan nyawa, jadi dalam kehidupan antara” ruh”dan “jasad” tak dapat berdiri sendiri-sendiri dua sisi ini saliang bertautan. Akan tetapi untuk sebuah pembahasan sebuah literal dapat di pilah-pilah masing-masing kedudukan dan fungsinya.

Jasmani punya kecenderungan mencintai tentang duniawi, sementara ruh punya kecenderungan mencintai sisi ketuhanan, dan masing masing memperjuangkan kecenderunganya, maka mana yang lebih dominan akan terlihat pada diri seseorang. Ada kalanya seseorang mencari kehidupan lewat sisi materi atau duniawi ada pula seseorang yang mencari kehidupan lewat sisi rukahani atau spirituat, I’mal li dunyaka ka-an-naka - taisyu Abadan I’mal li-akhirotika ka-an-naka tamutu- ghodan. Perjuangkan duniamu seakan kemu hidup selamanya, perjuangkan akhiratmu seakan kamu mati besok. Tetapi “hadis” ini membahas hal yang terpisah antara rukhani dan jasmani. Dan jika diikuti maka tak kan menemukan muaranya. Akan tetapi bila di pandang dalam persatuan tubuh dan jasat(wahdatul wujud) maka jika kita “memperjuangkan dunia maka harus kita mengingat tentang a’khirat, jika kita memperjuangkan ak’khirat maka harus kita ingat bahwa kita masih hidup”. Yang keduanya saling menunjang satu sama lain.

Jika dalam kehidupan demensi sekaran kita berada dalam dimensi dunia, yang nota benenya jasmani yang mempunyai peranan besar dalam engaturnya, mulai dari gerak, jalan, kerja dan pengaturan, persinggungan antara manusia satu dengan lainnya, manusia dan lingkungan serta komunitas terkecil. Lalu apakah peran dari rukahi yang harus di perjuangkan dengan sepiritual untuk membantu kehidupan kita?.

Ketika jasmani bergerak yang mengakibatkan sebuah kerja baik itu kerja otak fisik ataupun kerja gerak badan, membutuhkan suatu pemikiran yang tepat untuk mencapai hasil maksimal. Dalam pencapaian hasil yang optiomal, maka peran serta rukahani diperlukan , masalah rukhani dalah masalah hati nurani, jika hati kita tenang maka akal pikir menjadi bersih, ketika hati jernih maka etos kerja menjadi bagus.”ALAA BIDZIKRILLAHI TAT’MAINUL QULUUB” dengan berdzikir kepada Allah maka dapat memutma’inahkan hati. Jika hati menjadi mutma’inah, maka apapun yang kita kerjakan dilandaskan pemikiran yang baik dan tidak grusah – grusuh dan akan menghasilkan kerja yang bagus. Untuk itulah perlu kita belajar untuk mendidik pikiran-pikiran kita yang negative menuju pada pemikiran-pemikiran yang positif untuk menunjang etos kerja kita. Bukan berarti “nafs”kita matikan tetapi kita didik menjadi “nafs” yang terdididik (rodiyah) untuk menjadi “nafs” mardiyah.

Adapun metode mendidik :”nafs” saya ambilkan dari reorinya “Robrt frager” dari Institut of Transformasi psyicologi California dalam bukunya psyicologi transformasi HATI,DIRI,JIWA.

Tingkatan dalam pengendalian “nafs”

1. Nafs Tirani :(masih dalam sebuah kondisi tertutup), dan dilakukan dengan metode syahadad “la alaha illa Allah” (tiada tuhan selain tuhan) dan harus necapai aura warna biru muda.

2. Nafs Taubat :(penyesalan) dapat dilakukan dengan pencarian titik focus”Allah”(pencarian tuhan) warna aura merah.

3. Terilhami: (pebedaan ilham fujur dan ilham taqwa) dapat dilakukan dengan meditasi pada asma Allah “HU” untuk mencapai warna aura” hijau”.

4. Nafs Tenteram:(ketenangan jiwa) dapat dilakukan dengan pengambilan asma’Allah “al haqq” untuk mencapai warna aura “Putih”.

5. Nafs Ridzo: (rodziyah) dilakukan dengan asma’ul khusnah al hayyu(maha hidup) untuk mencapai warna aura” kuning”.

6. Nafs Diridzoi:(mardziyah) dilakukan dengan meditasi pengambilan asma’ ul khusnah “al-qoyyum”(maha kekal) untuk mencapai warna aura”biru tua”.

7. Nafs Suci:(jannah) di lakukan dengan pengambilan asma’ul khusnah

al-qohhar(mahakuasa) untuk mencapai warna aura hitam/ tak berwarna/kosong.

Asma’ Allah yang di hubungkan dengan tingkatan petama adalah “la ilaa ha alla Allah” yang artinyatiada tuhan selain tuhan” separuh bagian adalah pengingkaran atau “nafi” separuh bagian lagi adalah penegasa ”isbat “ berma’na “tiada tuhan”, “melainkan ada”( ora ono “ha” mongko ono “Allah”) kalimat ini masih menjadi teka teki karna tidak dapat di di pahami secara utuh dengan logika, sebab tak ada rujukan apapun sebelum kalimat” la ilaa ” bermakna “tiada yang lain” lalu siapakah yang di maksud jika tak ada rujukan? Maka munculah “Ha” yang artinya ada, kemudian “Ha” sendiri itu siapakah? Karena tak ada penjelasan tentang rujukan, maka di derifasikanlah kalimat” la ilaa Ha”yang tersusun dari “ alif - lam - alif - lam - hak” menjali “alif-lam-lam- hak” dan penegasannya adalah “tasdid” dikedua huruf“lam” menjadi “Allah” sehingga terwujudlah sebuah kalimat” tauhid” “la ilaaha ill Allah” yang dapat kita fahami sebagai “meliputi” ”wahdatul wujud”. Sehingga tak satupun di dunia ini yang dapat terpisah dari tuhan, perubahan perubahan pikran manusialah yang sering mengganggu, sehingga kehendak pribadi di anggap tuhan, seningga sering tersesat dengan pemikiran-pemikiran pribadi yang tepaksa menafikan “wajibal wujud”.

“Hu” sebutan terhadap tuhan yang tanpa sifat, adalah sebuah cara yang lebih intim untuk berkomunikasi dengan tuhan. Dan secara sederhana dapat di tafsirkan “engkau”yang mengambil dari huruf terakhir kalimat ” Allah ” dan ini menjadi intim karna pengucapannya di letakkan pada posisi hati yang terdalam. Dan di salurkan pada setiat detak jantung menuju nafas.

“haqq” yang berarti kebenaran , dan tuhanlah yang mempunyai kebenaran yang tetap dan tidak berubah ubah, sementara kebenaran yang datang nya dari makhluk adalah kesepakatan akal yang sewaktu-waktu dapat berubah, dan kebenaran ketuhanan yang di berikan pada makhluk jika tak di lestarikan maka akan terkontaminasi oleh kondisi kemanusiaan seseorang ,sehingga kebenaran ketuhanan tak valid lagi. Dan ketenteraman hatilah yang menjadi tolok ukur awal pengetahuan tentan kebenaran.

“Hayyu” bermakna “hidup” segala sesuatu yang hidup merupakan bagian dari sifat tuhan yang satu ini, tuhan adalah sumber kehidupan dan sumber dari keberadan segala sesuatu. Manusia mempunyai tingkat kehidupan yang berbeda berdasar kondisi duniawi mereka, mereka yang menjadikan “hayyu” tuhan sebagai landasan diri dan segala tindakan maka ia telah mencapai tingkat “nafs rodiyah” karna ia ridzo “hyyu” tuhan sebagai ruhnya.

“Qoyyum” yang artinya “kekal” tak ada yang kekal didunia ini melainkan dzat tuhan tak ada yang abadi kecuali dzatnya, alam yang ada merupakan almat akan keberadaannya, kesadaran diri tentang ketergantungan akan keberadan yang maha kekal dan pencapian nya adalah tuk bergabung dengannya, maka makom inilah makom nafs mardiyyah.

“Qohhar” bermakna “maha kuat” atau “maha kuasa” dan barang siapa merujuk pada kekuatan tuhan yang hakekatnya maha kuasa, kekuatan dan kekuasanya tak dapat ditolak ataopun di pinta oleh siapapun, kesadaran untuk tunduk luruh di haribaannya adalah kunci penyucian diri, yang tak mungkin di banding dengan apapun kasta, harta, benda, ataupun diskriminasi yanglain. Dan kondisi inilah dimana nafs pada posisi suci.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

ababil mengatakan...

Untuk @:dewik ati2 jika baca ini dan butuh penjelasan lebih lanjut.............

SABDA LANGIT mengatakan...

dwik@:pendaran warna pelangi di hasilkan dari penemuan sepiritua, "ibn haitam" tetapi di situ tak di temuakan dua warna yaitu: hitam dan putih
akan tetapi gelap bukanlah hitam, tetapi sering orang salah tafsir antara hitam dan putih....

Poskan Komentar